CRANIO-SACRAL THERAPY (CST)

CRANIO-SACRAL THERAPY (CST)

CRANIO-SACRAL THERAPY (CST)

Sentuhan 5 Gram yang Memulihkan Kesehatan

Tubuh manusia memang luar biasa. Ada begitu banyak misteri yang belum bisa dipahami oleh ilmu pengetahuan sekalipun. Ternyata sentuhan yang begitu lembut bisa membantu tubuh menjadi lebih sehat. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika mengalami nyamannya diterapi CranioSacral oleh rekan saya, Budiman Tanah Djaya. Tubuh begitu nyaman,dan  keteganganpun sirna. Hanya dengan sentuhan lembut, saya dibawa kepada relaksasi mendalam dan malam itu tidur sangat nyenyak. Bagaimana mungkin sentuhan yang hanya seberat satu keeping uang logam bisa membuat tubuh mengalami pemulihan?

Itulah CranioSacral Therapy (CST),yang adalah  suatu teknik lembut menggunakan tangan untuk melepaskan ketegangan di dalam tubuh. Sistem craniosacral meliputi seliuruh system yang berada dalam tengkorak kepala (cranial) dan sekitar tulang panggul (sacral atau sacrum). Termasuk didalamnya selaput otak, cairan otak atau serebrospinal, tabung dan system saraf tulang belakang, serta lapisan yang berada didalamnya seperti materi dura dan pia. Seorang terapis Craniosacral dapat merasakan ritme dalam system kraniosakral tersebut melalui sentuhan tangan. Apabila terjadi gangguan dalam system kraniosakral tersebut, maka terapis dapat melakukan teknik manual yang sangat lembut untuk mengatasinya. Pasien tidak akan mengalami rasa nyeri apapun, bahkan tidak jarang masuk dalam fase tidur mendalam (deep sleep).

Manfaat CST yang terutama adalah untuk mengurangi rasa nyeri dan gangguan fungsi tubuh.Juga, dapat meningkatkan performa dan juga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Gangguan tubuh sering muncul tanpa kita sadari, dan sumber masalahnya pun seringkali tidak diketahui dengan jelas.Setiap hari tubuh kita menerima stres dan tekanan yang harus diseimbangkan. Sayangnya, setiap perubahan tersebut serinkali menyebabkan jaringan lunak tubuh menjadi kencang dan mengubah sistem kraniosakral. Perubahan ini kemudian dapat mengakibatkan terbentuknya ketegangan disekitar otak dan saraf tulang belakang sehingga menghasilkan penghambatan. Akibatnya, terbentuklah suatu halangan terhadap performa system saraf pusat, dan dapat mengganggu system-sistem lain yang berhubungan dengannya.

Teknik CST ini pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh seorang Dokter Osteopati, John E. Upledger, setelah melalui penelitian dan uji klinis selama bertahun-tahun di Michigan State University, tempatnya mengajar sebagai professor biomekanik.Teknik CST menggunakan sentuhan yang sangat lembut, tidak lebih dari 5 gram, kira-kira menyamai berat sekeping uang logam. Dengan sentuhan lembut ini, terapis akan melepaskan hambatan pada jaringan lunak yang menyelubungi system saraf pusat. Sekarang ini, CST semakin banyak dipergunakan sebagai metoda kesehatan preventif. Oleh karena kemampuannya dalam meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, dan sangat efektif untuk penanganan pelbagai masalah medis yang berkaitan dengan nyeri dan disfungsi tubuh.

Adalah pada tahun 1970, pada sebuah pembedahan leher yang ia bantu,  dokter John E. Upledger pertama kali mengamati pergerakan ritmis dari apa yang akan disebut sebagai system kraniosakral. Tidak satupun koleganya atau buku teks kedokteran yang dapat menjelaskan penemuan secara tidak sengaja ini.

Terusik oleh rasa penasaran, Dr. Upledger mulai mencari jawabannya. Ia mulai dengan mempelajari penelitian Dr. William Sutherland, Bapak Osteopati Kranial. Selama lebih dari 20 tahun, di permulaan tahun 1900-an, Dr. Sutherland telah menyelidiki konsep tentang struktur tulang tengkorak yang memungkinkan untuk pergerakan. Selama berpuluh tahun kemudian, teorinya masih tetap janggal dengan apa yang dipercayai oleh masyarakat sains dan medis. Dr. Upledger percaya, bagaimanapun, jika teori Sutherland tentang pergerakan kranial adalah benar, maka ini akan menjelaskan, dan memungkinkan akan keberadaan dari ritme yang ia temui dalam pembedahan tersebut.

Berdasarkan penemuan inilah Dr. Upledger mengkonfirmasikan secara ilmiah akan keberadaan gerak dari tulang tengkorak. Dari tahun 1975 sampai 1983 ia bertugas sebagai peneliti klinis dan Profesor Biomekanik di Michigan State University. Dimana ia mengawasi sebuah tim atas ahli anatomi, fisiolog, biofisis, dan bio-rekayasa dalam penelitian dan pengujian. Hasilnya bukan saja mengukuhkan teori Sutherland, tetapi juga penjelasan tentang mekanisme dibalik pergerakan tersebut, yaitu system kraniosakral. Dr. Upledger meneruskan karyanya dalam bidang tersebut yang pada akhirnya melahirkan CranioSacral Therapy.

Penemuan tersebut akhirnya mendunia dan terbukti membantu masyarakat menjadi lebih sehat. Di masyarakat seringkali kita menemukan keluhan-keluhan tubuh yang tidak terdeteksi oleh alat diagnosa medis. Ada yang mengalami sakit kepala menahun tanpa diketahui sebabnya. Tes laboratorium maupun MRI (magnetic resonance imaging) tidak bisa menjelaskannya. Mengapa demikian? Oleh karena, ada sebagian kecil bagian tubuh manusia yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap kemampuan tubuh untuk berfungsi secara benar. Seperti otak dan saraf tulang belakang yang membentuk system saraf pusat. Dan, system saraf pusat juga sangat dipengaruhi oleh system kraniosakral yang terdiri dari membrane dan cairan yang menyelubungi, melindungi serta memberikan nutrisi kepada otak dan saraf tulang belakang. Gangguan pada sirkulasi cairan serebrospinal maupun ketegangan pada selaput otak seringkali mengubah tekanan pada bagian dalam kepala. Hal tersebut seringkali tidak terdeteksi oleh alat canggih sekalipun. Saat tekanan dalam kepala meningkat, rasa pusing adalah hal pertama yang dapat kita rasakan. Jika tekanan dalam kepala tidak dikurangi, sakit kepala akan muncul terus menerus. Dalam hal demikian, obat-obatan seringkali tidak menolong.

Kabar baiknya, penghambatan yang demikian dapat dideteksi dan diperbaiki dengan cara sentuhan sederhana. Dengan sentuhan yang sangat ringan, praktisi CST menggunakan tangannya untuk melakukan evaluasi pada system kraniosakral. Hanya dengan merasakan secara lembut pada beberapa lokasi tubuh, praktisi dapat mengetahui keleluasaan gerak dan ritme denyutan cairan serebrospinal di sekitar otak dan saraf tulang belakang. Teknik sentuhan ringan juga sering digunakan untuk melepaskan hambatan pada semua jaringan lunak yang mempengaruhi system kraniosakral.

Dengan menormalkan lingkungan di sekitar otak dan saraf tulang belakang, serta meningkatkan kemampuan tubuh melakukan swa-koreksi, Craniosacral therapy dapat mengangkat pelbagai disfungsi, dari mulai nyeri kronis , cidera olahraga, sampai stroke dan pelemahan saraf.

Kondisi Apakah yang Bisa Dibantu Oleh CranioSacral Therapy?

o          Migrain dan Sakit Kepala

o          Nyeri Punggung dan Leher Kronis

o          Autisme

o          Gangguan Terkait Stress dan Ketegangan

o          Pelemahan Koordinasi Motorik

o          Gangguan Balita dan Anak-anak

o          Cidera Otak dan Saraf Tulang Belakang

o          Kelelahan Kronis

o          Fibromyalgia

o          Sindroma TMJ (gangguan pada rahang)

o          Skoliosis

o          Gangguan Pada System Saraf Pusat

o          Gangguan Belajar

o          ADD/ADHD (Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktifitas)

o          Post-Traumatic Stress Disorder (Gangguan Stress Pasca Trauma)

o          Masalah Ortopedik

o          Dan masih banyak lagi

Namun, ada beberapa kondisi dimana aplikasi CST tidak disarankan. Berikut adalah beberapa kondisi dimana jika terjadi pengubahan atau peningkatan tipis pada tekanan intracranial akan dapat menyebabkan ketidakstabilan. Aneurisma akut, pendarahan otak atau gangguan pendarahan yang sudah ada sebelumnya adalah kondisi yang dapat dipengaruhi oleh perubahan kecil pada tekanan intracranial.

Respon terhadap CST akan berlainan dari setiap individu maupun kondisinya. Respon tubuh anda adalah unik, akan berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan orang lain walaupun kasusnya mirip dengan keluhan anda. Jumlah sesi yang dibutuhkan dalam proses pemulihan akan sangat bervariasi. Dari hanya sekali sampai tiga kali seminggu atau lebih selama beberapa minggu. Umumnya manfaat dari terapi Craniosacral ini sudah bisa dirasakan pada sesi pertama. Banyak dari pasien yang merasa lebih rileks, mengantuk, dan bahkan tidur lebih dari 20 menit saat terapi. Ada juga yang mengalami sakit kepala yang sudah 2 tahun dialami tidak pernah kambuh lagi hanya dengan satu sesi terapi.

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar